Perangkap Nekolim Dalam Secangkir Kopi

Berita

1. Sejarah Singkat Lahirnya Nekolim

Nekolim merupakan sebuah singkatan atau istilah dari (Neokolonialisme-Kolonialisme-Imperialisme) yang diperkenalkan oleh Bung Karno. Nekolim lahir dari revolusi industri pertama sejak ditemukanya mesin uap oleh James Watt pada akhir abad ke 18 kemudian berdiri Negara Amerika Serikat yang telah melepaskan diri dari Inggris sehingga pada saa itu dunia didominasi oleh peradaban barat. Penjajahan dilakukan oleh bansa-bangsa eropa keselurh pelosok dunia untuk menguasai sumber daya alam dengan alas an memasarkan produknya hingga mejajah.  Ketika Negara-negara yang berhasil dijajah telah memerdekakan diri maka berakhir pula penjajahan kolonialisme model lama. Akan tetapi bangsa barat tidak akan pernah rela apabila Negara-negara tersebut merdeka. Oleh karena itu muncul padangan bahwa secara wilayah boleh saja mereka merdeka tetapi secara eknomi dan ideoogi kaum koloni akan terus bermanufer menciptakan sebuah keterganungan. Sehingga imperialisme tua tadi berevousi menjadi imperilalisme muda. Artinya Nekolim adalah sistem penjajahan baru yang sengaja dilakukan agar tidak kelihatan. Singkatnya Kolonialisme akibat dari imperialisme, sedangkan imperialisme akibat dari kapitalisme. Kapitalisme terjadi karena kontradisksi dalam masyarakat feodal  kemudian feodalisme berubah wujud menjadi kaum borjuis.

2. Praktek Nekolim Dalam Secangkir Kopi

Menikmati kopi sudah hal yang sangat lazim bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. Nongkrong merupakan hal yang menyenangkan bagi para kalangan. Sambil nongkrong ditemani segelas kopi kini telah menjadi kebiasaan menyenangkan bagi para penikmat kopi. Namun ada perbedaan tempat menikmati secangkir kopi yang disebabkan oleh adanya kelas sosial. Begitu juga dengan para pemuda yang memiliki perbedaan selera dalam memilih tempat untuk menikmati secangkir kopi. Masyarakat yang status sosialnya tinggi cendrung memilih lokasi lebih istimewa untuk sekedar ngopi. Tentu jika hal tersebut dilakukan oleh kalangan elit karena berbagai kepentingan mereka. Misalnya untuk membincangkan perencanaan program yang telah mereka susun bersama. Tetapi ada pula yang demi kepentingan perekat hubungan, contohnya para pemuda dari golongan elit menikmati segelas kopi bersama pasangan atau teman sejawat. Mereka lebih memilih tempat ngopi dengan harga lebih mahal. Kebiasaan ini terus dilakukan hingga merambah kekalangan non priyai, walaupun itu pada dasarnya terpaksa dilakukan karena gengsinya. Salah satu perangkap yang dibuat oleh Nekolim terlihat pada segelas kopi Starbucks. Diciptakan dengan tempat yang modern sehingga membuat orang tertipu bahwa itu adalah jerat yang sengaja dibuat untuk menghisap. Mengapa bisa dikatakan demikian ? Tentu saja karena sistem yang dibuat yakni memeras kaum bawah dengan wajah baru.

Starbucks menjadi tren yang mempengaruhi kalangan berbagai kalangan. Padahal jika kita kaji secara detail dari mana asal mulanya dan bagaimana mereka beroperasi sangat jelas kalau produk tersebut adalah sistem penjajahan baru. Starbucks bediri sejak 1971 oleh tiga orang yaitu Jerry Baldwin, Zev Siegl dan Gordon Bowker. Mereka awalnya membuka toko kopi pertama di Pike Place Market yang hanya menjual biji kopi dan kopi giling. Pada tahun 1982 Howard Schultz bergabung menjadi Direktur Operasional Ritel dan Pemasaran. Pada saat Howard ke Italia sekitar tahun 1983 ia meneliti di daerah lahirnya espresso tersebut yakni di Kota Milan dan Verona. Ia merasa kagum ketika secangkir kopi dapat membuat orang saling berhubungan. Oleh karena itulah ia menilai bahwa ada peluag pasar untuk mengembangkan trend kopi serupa di negaranya. Seiring berjalannya waktu Starbucks terus berkembang hingga ke negara-negara lainnya. Di Indonesia sendiri telah berkembang luas ke setiap daerah bahkan stiap kota lokasi Starbucks lebih dari satu titik. Ini tentu saja dapat merugikan warung-warung kopi kecil disekitar lokasi tersebut. Selain itu harga kopi di Starbucks yang mahal bahkan bisa mencapai lima puluh ribu rupiah per cangkir. Disinilah terjadinya penghisapan selain warung kopi kecil menjadi kurang laku. Belum lagi jika kita kaji sari segi wilayah sudah berapa wilayah yang menjadi titik-titik Starbucks. Adanya lokasi tersebut dapat saja diterima apabila ada dampak baik terhadap masyarakat tetapi pada kenyataanya justru memeras isi kantong para penikmat kopi.   

Kemudian yang perlu diperhatikan pula adalah langkah pemerintah dalam hal pemberian izin. Perusahaan milik asing tidak akan bisa masuk jikalau tidak mendapatkan izin secara tertulis dari pemerintah. Artinya pemerintah perlu merefleksi kembali apa dampak yang dihasilkan ketika praktek Nekolim ini terus ada. Beberapa langkah yang dilakukan oleh Starbuks untuk menarik minat para pembeli sangat tersusun secara sistematis. Mereka memanfaatkan media online dengan “Starbucks card” sehingga pengunjung selalu update terkait produk baru. Alamat website yang tercantum membuat para pelanggan terstimulus untuk langsung datang ke gerai Starbacks. Selain itu mereka juga membuat pelanggan menikmati kopi dengan sebuah konsep ritual minum yakni “trumbler” (tempat minum). Sedangkan untuk menjalin hubungan baik dengan para pelanggan mereka melakukan dengan cara melihat hari-hari besar yang dirayakan di wilayah sekitar. Misalnya mereka mengucaokan hari Raya Idul Fitri sehingga seakan keakraban terjalin dengan para pembeli.

Jeratan Nekolim terus berjalan bahkan merambah kesemua linih. Banyak cara yang dijalankan oleh manajemen Starbuks agar minat pelanggan semakin tinggi dan seakan terbius dengan manufer mereka. Oleh karena itu membutuhkan sebuah kajian analisis yang dalam agar kita tidak terjebak. Meskipun teori ekonomi mengatakan bahwa pola hidup mewah selalu dilakukan oleh orang yang memilki penghasilan tinggi, namun cara hidup sederhana itu lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *